Top
Chat Sekarang
Konsultasi Gratis!
×
PROMOSI ONLINE 1 hari ini saja! 35% Discount untuk Asuransi Mobil dan Motor!!! HANYA ONLINE ORDER - tidak tersedia dengan call center.

Pelanggan dari Morotai Island baru saja membeli Asuransi Kesehatan dari Asuransi Takaful Umum

×

30 Oct 2015

Cermati Risiko Gagal Bayar Agar Mendapatkan Manfaat Asuransi Jiwa KPR secara Maksimal

Cermati Risiko Gagal Bayar Agar Mendapatkan Manfaat Asuransi Jiwa KPR secara Maksimal - Asura

Kategori:

Pada saat pengajuan KPR, bank mewajibkan calon debitur membayar uang muka minimal 30% dari total kredit. Itu belum lagi ditambah biaya lain-lain yang harus dikeluarkan, semisal biaya notaris, provisi, maupun asuransi. Wajar bila calon debitur berupaya mengurangi beban pembiayaan. Salah satu beban yang kerap dikorbankan adalah beban pembayaran premi asuransi. Apalagi yang dikorbankan adalah premi asuransi jiwa. Padahal, manfaat asuransi jiwa KPR sangat berarti bagi debitur, khususnya bila debitur meninggal dunia.

Ilustrasi Kasus

Kita boleh mengatakan, “Saya masih muda dan sehat. Masih kuat bekerja. Tidak perlu khawatir akan meninggal dunia dalam waktu cepat.” Faktanya, masalah umur dan kesehatan bukan satu-satunya faktor. Kecelakaan tidak terduga barangkali bisa saja menimpa hingga membuat seseorang meninggal dunia.

Sebelum membahas lebih jauh manfaat asuransi jiwa KPR, ada baiknya memberikan ilustrasi kasus bila pembayaran cicilan KPR ternyata tidak sesuai perkiraan. Misalnya, dua keluarga sama-sama mengajukan KPR dengan model joint income. Joint income merupakan penggabungan penghasilan suami dan istri saat mengajukan kredit. Dengan ini, nilai kredit yang didapatkan bisa lebih besar.

Berdasarkan penghasilan saat ini, masing-masing keluarga memperkirakan mereka dapat melunasi cicilan dalam waktu beberapa tahun ke depan. Di tengah jalan, kepala keluarga masing-masing keluarga meninggal dunia. Kita asumsikan saja kedua kepala keluarga ini bekerja di tempat yang sama dan meninggal dunia karena kecelakaan kerja.

Logisnya, utang cicilan KPR tetap harus dibayarkan, sekalipun kepala keluarga telah meninggal. Dalam kasus ini, diasumsikan istrilah yang harus melunasi utang tersebut. Namun, rupanya salah satu keluarga langsung dilunasi cicilannya, sekalipun jumlahnya masih banyak.

Mengapa bisa begitu? Siapa yang membayar?

Kenali Perbedaan Skemanya

Dalam kasus di atas, mengapa salah satu keluarga bisa terlunaskan utangnya sementara yang lain masih harus membayar? Kita bisa pastikan, masing-masing keluarga mengajukan KPR dengan skema asuransi yang berbeda. Memahami perbedaan skema ini akan membuat calon debitur nantinya akan lebih memahami manfaat asuransi jiwa KPR.

Bank selalu memperhitungkan segala kemungkinan risiko debitur mengalami gagal bayar. Salah satunya, tentu saja saat debitur meninggal dunia. Bank tentunya tidak ingin menanggung risiko kerugian manakala debitur tidak dapat membayar. Tidak salah bila bank juga meminta debitur mengasuransikan jiwanya. Termasuk juga meminta calon debitur memberikan perlindungan asuransi untuk rumahnya, misalnya asuransi kebakaran.

Asuransi jiwa untuk kredit joint income bisa berbentuk skema first to die atau the last survivor.

Pada skema first to die, pihak asuransi akan membayar 100% biaya pertanggungan bila salah satu debitur meninggal dunia terlebih dahulu, apakah itu istri atau suami. Berdasarkan ilustrasi kasus di atas, keluarga yang terlunaskan utang kreditnya kemungkinan mengambil skema asuransi kredit ini.

Sementara, keluarga lain kemungkinan mengambil skema the last survivor. Dapat dipahami jika keluarga ini masih harus mewarisi cicilan sekalipun kepala keluarga telah meninggal dunia. Sebabnya, pihak asuransi hanya akan membayar klaim asuransi hanya jika kedua debitur telah meninggal dunia.

Ini yang membuat manfaat asuransi jiwa KPR begitu terasa

Membayar asuransi jiwa KPR sembari membayar angsuran bisa jadi terasa mahal. Perbedaan skema asuransi kredit di atas pasti berdampak pada premi asuransi yang mesti dibayarkan. Skema asuransi jiwa the last survivor mungkin saja dipilih karena premi asuransi yang harus dibayarkan lebih rendah dari skema first to die.

Manfaat asuransi jiwa KPR kerap luput dari perhitungan calon debitur. Calon debitur mungkin merasa dapat melunasi cicilan dalam waktu singkat karena besarnya penghasilan yang didapatkan saat ini. Mereka juga barangkali terlalu fokus mendapatkan persetujuan kredit sehingga abai dengan segala kemungkinan risiko di masa depan.

Kita tidak pernah tahu kejadian apa yang akan menimpa kita di masa depan. Risiko seperti kebakaran rumah, cacat akibat kecelakaan, maupun meninggal dunia selalu mungkin terjadi, meski kita berusaha meminimalisir risiko tersebut. Risiko meninggal dunia bahkan merupakan risiko yang tidak akan terhindarkan. Suatu waktu, siapapun debiturnya pasti akan meninggal dunia.

Kita perlu mempertimbangkan dengan cermat kemampuan membayar berdasarkan penghasilan ditambah kemungkinan risiko ini. Kita ambil satu contoh. Pada banyak pengalaman, istri biasanya lebih memilih mengundurkan diri dari pekerjaan karena ingin berkonsentrasi mengurusi anak dan rumah tangga. Bila pengajuan kredit awalnya joint income, otomatis tinggal suami yang membayar. Bayangkan bila tanpa diduga suami meninggal dunia sementara cicilan masih harus dibayarkan. Siapa yang akan melunasinya?

Banyak jenis pekerjaan lapangan yang memiliki risiko kematian tinggi. Banyak orang pula yang meninggal tiba-tiba karena penyakit yang sebelumnya tidak pernah teridentifikasi. Memperhitungkan segala kemungkinan risiko sama pentingnya dengan berkonsentrasi meloloskan ajuan KPR.

Calon debitur tidak seharusnya mengorbankan premi asuransi bila perhitungan risiko gagal bayarnya terbilang tinggi. Pada asuransi jiwa, lebih baik memilih skema asuransi jiwa first to die dibandingkan the last survivor. Premi asuransinya memang lebih tinggi, namun tentu sebanding dengan apa yang didapatkan kalau-kalau kejadian tidak terduga terjadi di masa depan.

Kembali pada ilustrasi kasus di atas. Salah satu keluarga mesti telah memperhitungkan kemungkinan gagal bayar, sehingga memilih mengambil skema first to die. Saat suami meninggal dunia di saat cicilan masih harus dibayar, anggota keluarga yang ditinggal bisa lega karena biaya cicilan diambil alih oleh pihak asuransi. Dengan kata lain, utang KPR secara otomatis terlunaskan tanpa harus dialihkan pembayarannya ke anggota keluarga lain.

Perhitungkan risiko gagal bayar

Apa yang menjadi penekanan kita ini adalah memperhitungkan risiko gagal bayar. Asuransi kredit merupakan cara untuk mengurangi risiko ini. Hukum di Indonesia telah mengatur persoalan asuransi kredit melalui Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 124/PMK.010/2008 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Lini Usaha Asuransi Kredit dan Suretyship. Pada pasal 1 angka 2, didapati pernyataan yang berbunyi:

“Asuransi Kredit adalah lini usaha asuransi umum yang memberikan jaminan pemenuhan kewajiban finansial penerima kredit apabila penerima kredit tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit”

Subpasal tersebut jelas sekali menyatakan pengalihan tanggung jawab pembayaran kredit dari debitur kepada pihak asuransi manakala debitur mengalami gagal bayar. Kemungkinan risiko ini tidak hanya menguntungkan pihak kreditur, namun juga pihak debitur. Baik pemberi kredit maupun penerima kredit sama-sama tidak akan menerima risiko kerugian jika akhirnya penerima kredit mengalami keadaan yang membuatnya tidak dapat memenuhi pembayaran kredit.

Pengurusan hingga pembayaran premi asuransi dirasa memberatkan banyak pengaju kredit KPR. Pertama, pengurusan premi asuransi harus melalui bank, tidak langsung dengan pihak asuransi, sehingga negosiasinya terkesan berbelit-belit. Kedua, premi asuransi nantinya harus dibayarkan sembari membayar cicilan KPR. Asuransi untuk perlindungan rumah, yaitu asuransi kebakaran, barangkali lebih rendah biayanya. Beda hal dengan asuransi jiwa. Nilai premi berbeda tergantung kondisi kesehatan dan umur. Biaya asuransi semakin mahal bila umur semakin tua dan riwayat kesehatannya buruk.

Biaya asuransi jiwa yang dianggap mahal inilah yang membuat banyak pengaju kredit akhirnya memilih menekan biaya yang harus dikeluarkan untuk asuransi jiwa tersebut. Pertimbangan risiko gagal bayar luput dari perhatian mereka.

Namun bila kita memahami pentingnya asuransi kredit sebagaimana yang dinyatakan pada Peraturan Menteri keuangan di atas, kita akan lebih hati-hati dalam pengajuan KPR. Asuransi jiwa bisa jadi membuat calon debitur mengeluarkan biaya lebih banyak. Di sisi lain, kita akan benar-benar merasakan manfaat asuransi jiwa KPR ketika kejadian yang tidak duga sebelumnya benar-benar terjadi.

Bila sudah memahami pentingnya asuransi jiwa dan asuransi kredit lainnya, hal terakhir yang perlu diketahui adalah bagaimana cara mengajukan klaim asuransi nantinya.

Pahami cara mengajukan klaim agar bisa mendapatkan manfaat asuransi Jiwa KPR

Manfaat asuransi jiwa KPR baru benar-benar bisa dirasakan bila kita sudah mendapatkan klaim asuransi. Tentu ada langkah-langkah tertentu yang perlu dilakukan.

Hal pertama yang perlu dilakukan, pastikan mendapat informasi selengkap mungkin dan paham mengenai cara pengajuan dan besaran klaim yang didapatkan bila debitur meninggal dunia saat kredit belum selesai. Perihal asuransi ini juga sebaiknya disampaikan kepada kerabat terdekat agar banyak yang tahu mengenai permasalahan ini.

Bila debitur meninggal dunia, pastikan mengetahui dan menyediakan seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk pengajuan klaim. Pengajuan klaim sesegara mungkin barangkali terdengar kurang baik, namun bagaimanapun hal tersebut diperlukan. Semakin cepat klaim asuransi diurus, pihak ahli waris tidak perlu terlalu lama memikirkan bagaimana cara melunasi cicilan KPR yang masih tersisa.

Simak terus uraian tentang asuransi di Asura, Sahabat Asuransi Anda.

Saat ini belom ada ulasan

Blog Yang Serupa