Top
Konsultasi Gratis!
×
PROMOSI ONLINE 1 hari ini saja! 35% Discount untuk Asuransi Mobil dan Motor!!! HANYA ONLINE ORDER - tidak tersedia dengan call center.

Pelanggan dari Morotai Island baru saja membeli Asuransi Kesehatan dari Asuransi Takaful Umum

×

30 Oct 2015

Kredit In-House: Cicilan Uang Muka Rumah sebagai Alternatif Pembayaran Uang Muka KPR

Cicilan Uang Muka Rumah sebagai Alternatif Pembayaran Uang Muka KPR - Asura

Kategori:

Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dianggap sebagai solusi ampuh mengatasi kebutuhan masyarakat akan hunian. Rumah seharga ratusan juta bisa diangsur selama beberapa waktu, sehingga mereka yang tidak bisa menyediakan dana tunai pun dapat memiliki rumah.

Sebagai hunian, rumah menjadi kebutuhan mendesak bagi siapa saja. Rumah menjadi tempat perlindungan, penyedia keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya. Tidak heran jika kehadiran KPR maupun KPA membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan rumah yang dibutuhkan. Dengan membayar angsuran selama beberapa tahun, rumah pun akan menjadi milik kita.

Hanya saja, solusi ini rupanya tidak cukup menyentuh lapisan masyarakat yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk melunasi uang muka KPR. Maklum, melalui Surat Edaran No 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013, Bank Indonesia mewajibkan calon pembeli rumah membayar muka minimal 30%. Rumah seharga 350 juta hanya bisa didapatkan bila membayar uang muka sebesar 105 juta rupiah. Pastinya banyak orang yang tidak mampu menyediakan dana sebesar itu, apalagi bagi pasangan muda yang baru saja meniti karier di dunia kerja.

Banyak juga yang memanfaatkan Kredit Tanpa Agunan (KTA). Tapi bukannya lega, malah makin sulit bayarnya. KTA memang memungkinkan seseorang membayar uang muka rumah, namun pembayarannya akan memberatkan. Pasalnya, KTA merupakan pinjaman jangka pendek dengan bunga yang besar. Keadaan seperti ini nantinya malah akan membuat manajemen keuangan berantakan dan akhirnya kesulitan membayar angsuran pinjaman.

Terus gimana? Ada cara lain mendapatkan KPR tanpa harus mengeluarkan uang muka sekaligus. Kita tidak harus mengeluarkan uang langsung 105 juta rupiah demi rumah yang diinginkan. Caranya dengan melakukan cicilan uang muka rumah. Cara ini disebut dengan kredit in-house

Kredit In-House

Sistem cicilan uang muka yang disebut kredit in-house ini memang jadi alternatif lain bagi lapisan masyarakat yang selalu urung mengambil KPR karena besaran uang mukanya. Kredit in-house memang tidak diinisiasi oleh bank, namun oleh developer. Developerlah yang menawarkan kemudahan ini kepada konsumen.

Dengan begitu rantai prosedurnya lebih pendek. Konsumen cukup berhubungan dengan developer saja, tidak perlu harus melalui bank. Jadinya, konsumen tidak perlu merasa disulitkan dengan prosedur dan waktu pengurusan yang panjang.

Karena itu tidak jarang kita melihat spanduk, brosur, atau banner yang menyebutkan rumah bisa dikredit tanpa harus bayar DP atau uang muka. Sebenarnya bukan berarti tidak ada uang muka, namun uang muka itu dicicil hingga beberapa kali. Cicilan uang muka bisa 10 kali, 20 kali, dan seterusnya tergantung kebijakan developer.

Developer biasanya akan meminta tanda jadi yang disebut dengan bookingfee. Jumlahnya tidak besar. Misalkan, rumah yang dibeli seharga 350 juta rupiah. Berarti uang mukanya 105 juta rupiah. Konsumen nanti akan diminta membayar tanda jadi sebesar 1 juta rupiah. Setelah itu, 15 hari berikutnya dia diminta melunasi setengah dari uang muka keseluruhan, yaitu senilai 52,5 juta rupiah. Selanjutnya ia akan mencicil sisa uang muka selama 20 kali, yaitu 2,625 juta rupiah.

Berarti di awal, konsumen hanya perlu menyediakan uang sekitar 53,5 juta rupiah (tanda jadi + ½ uang muka). Selama 20 bulan ke depan ia hanya perlu membayar 2,625 juta rupiah tiap bulan untuk pelunasan uang muka.

Skema pembayaran setiap developer mungkin saja berbeda dari ilustrasi di atas. Yang pasti, konsumen tidak akan dikenakan bunga tambahan. Jadi berbeda dengan KPR atau KPA yang mengenakan bunga pada konsumen saat mencairkan kredit.

Kredit in-house memiliki beberapa keuntungan lain. Kredit ini sifatnya lebih fleksibel. Lama cicilan bisa dinegosiasikan. Sekalipun developer meminta cicilan uang muka rumah dibayar 30 kali, kita bisa meminta lebih lama lagi.

Pembeli juga tidak harus dibingungkan dengan biaya-biaya tambahan yang harus dibayarkan jika berurusan dengan bank. Biaya-biaya seperti biaya provisi, biaya survei, ataupun biaya appraisal tidak perlu dipusingkan, sebab developer tidak akan meminta itu.

Dengan kelebihan-kelebihan ini, pastinya akan menarik banyak orang. Lalu bagaimana prosedur cicilan uang muka rumah melalui kredit in-house?

Bagaimana cara saya mendapatkan cicilan uang muka rumah?

Penawaran cicilan uang muka rumah semacam ini sebenarnya mudah ditemukan. Tidak sulit menemukan brosur, spanduk, atau banner penawaran kredit in-house. Bila berminat, tinggal hubungi saja developernya. Yang berbeda-beda itu nantinya adalah skema pembayarannya.

Memang kredit in-house biasanya bakal jadi rebutan. Masalahnya, developer tidak menyediakan banyak unit untuk skema in-house. Bisa jadi, dari 100 unit dalam satu perumahan, hanya 5-10 yang bisa diangsur uang mukanya.

Developer biasanya menetapkan kebijakan berbeda-beda mengenai skema pembayaran rumah. Ada yang 10 kali, 20 kali, 36 kali, hingga 50 kali. Lama angsuran ini pun masih bisa dinegosiasikan lagi. Beberapa developer mungkin saja meminta pembayaran uang muka, ada juga yang tidak. Yang pasti, biasanya ada tanda jadi yang disebut dengan bookingfee.

Bila harga rumah 360 juta, dengan lama cicilan 36 kali tanpa uang muka, berarti harus membayar 10 juta setiap bulannya selama jangka waktu 3 tahun. Bila perlu membayar uang muka, cicilannya tentu lebih murah, namun harus menyediakan uang cukup besar di awal.

Biasanya, serah terima rumah baru dilaksanakan setelah pembayaran angsuran telah mencapai 80%. Walau demikian, itu tergantung dari kesepakatan antara developer dengan pembeli. Agar ada kejelasan, sebaiknya masalah serah terima rumah juga dicantumkan saat membuat Pra Perjanjian Jual Beli (PPJB). PPJB biasanya akan mengatur hal-hal berikut:

- Rumah dibeli dengan cara in-house atau mengangsur

- Uang muka yang perlu dibayarkan (jika ada)

- Jumlah cicilan yang harus dibayarkan dan lama masa cicilan

- Waktu serah terima rumah (jika diperlukan)

- Sanksi maupun denda terhadap masing-masing pihak jika melanggar kesepakatan

Bila seluruh angsuran rumah telah diselesaikan, nantinya PPJB akan diubah menjadi Akta Jual Beli (AJB). AJB ini nantinya akan menjadi bukti sah dan menjadi dasar untuk peralihan hak tanah maupun bangunan. Pada saat pembuatan AJB, tidak hanya developer dan pembeli saja yang bertemu, namun juga notaris. Notarislah yang nantinya akan mengesahkan AJB.

Sudah bisa dicicil, bisa dapat untung lagi!

Berminat dengan investasi rumah? Sistem cicilan uang muka rumah ini bisa menjadi salah satu cara. Kita bisa beli rumah dengan cara mencicil DP. Lalu setelah DP dilunasi, harga properti rumah mungkin saja sudah naik.

Misalnya, harga rumah 350 juta rupiah. Lalu kita mendapatkan kredit in-house dari developer dengan uang muka 10 persen ditambah cicilan 24 kali. Berarti kita harus membayar uang muka sebesar 35 juta dengan 13,125 juta rupiah setiap bulan. Setelah dua tahun, rupanya harga properti di wilayah tersebut naik 30 persen. Itu artinya, harga rumah akan naik menjadi 455 juta rupiah. Kalau saat itu kita menjual rumah tersebut, kita akan mendapatkan keuntungan sekitar 105 juta rupiah.

Cara investasi seperti ini sudah mulai banyak dilakoni banyak orang. Tentu perlu kelihaian melihat perkembangan harga. Kapan harga properti bisa naik. Berarti diperlukan kemampuan memprediksi perubahan harga properti di masa depan.

Tetap Perlu Cermat

Penawaran cicilan uang muka rumah pasti menggiurkan banyak orang, apalagi mereka yang berpenghasilan di bawah 10 juta rupiah. Di sisi lain, konsumen tetap harus cermat saat ingin membeli rumah dengan sistem kredit in-house. Bukan apa-apa, banyak juga developer yang suka nakal terhadap konsumennya. Padahal sekali kita menandatangani akad kredit, mau tidak mau harus membayar cicilan setiap bulannya.

Salah satu bentuk kenakalan itu misalnya spesifikasi rumah yang kita dapatkan ternyata tidak sesuai dengan penawaran di awal. Ini belum lagi ditambah pembangunan rumah yang tidak juga rampung. Padahal tujuan kita mengambil kredit supaya segera dapat menempati rumah.

Bank tidak memiliki kaitan dengan kenakalan para developer ini. Bagaimanapun, cicilan tetap harus dibayarkan sekalipun ada masalah dengan pembangunan rumah. Jadi, cermat sebelum membeli.

Hal terakhir yang perlu pahami, pembatalan pembelian rumah bisa merugikan pembeli. Developer mau mengembalikan DP yang telah dibayarkan, namun tidak penuh. Mungkin saja hanya separuhnya saja yang akan dikembalikan. Jadi, sekali lagi kecermatan dalam membeli sangat penting agar pembeli tidak merugi.

Rumah sebagai aset penting harus kita miliki dan rawat dengan baik termasuk proteksi asuransi rumah juga sangat penting untuk di lakukan. Jangan lupa untuk bergabung dengan Asura, sahabat asuransi anda untuk mendapatkan segala informasi tentang asuransi untuk anda semua.

Saat ini belom ada ulasan

Blog Yang Serupa