Top
Chat Sekarang
Konsultasi Gratis!
×
PROMOSI ONLINE 1 hari ini saja! 35% Discount untuk Asuransi Mobil dan Motor!!! HANYA ONLINE ORDER - tidak tersedia dengan call center.

Pelanggan dari Morotai Island baru saja membeli Asuransi Kesehatan dari Asuransi Takaful Umum

×

06 Feb 2019

Perbedaan Pendapat Tentang Halal dan Haram Asuransi

Perbedaan Pendapat Tentang Halal dan Haram Asuransi - Asura

Kategori:

Masyarakat Muslim mulai memilah-milah transaksi keuangannya dan pada akhirnya memilih transaksi keuangan yang menghasilkan “keuntungan” yang halal baginya. Kini, penggunaan transaksi-transaksi yang Islami (sering disebut dengan transaksi syariah) telah menjadi lifestyle tersendiri.

Lalu, bagaimana dengan Asuransi? Halal atau Haram?

Pertanyaan ini menjadi penting mengingat dalam financial planning kita selalu mencari solusi untuk mengelola risiko (risk management). Dalam risk management inilah seorang financial planner sering kali menyarankan penggunaan produk-produk asuransi.

Untuk menganalisis, apakah asuransi ini halal, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengenal bagaimana transaksi yang terjadi dalam asuransi ini. Dalam Undang-Undang No.40 Tahun 2014 tentang Perasuransian disebutkan bahwa “Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk:

  • Memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau
  • Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Singkatnya, asuransi adalah suatu transaksi untuk mengalihkan risiko dari peserta (pemegang polis) kepada perusahaan asuransi. Risiko yang mungkin akan dihadari oleh peserta asuransi dialihkan kepada perusahaan asuransi. Risiko itu bisa berupa kerugian, kerusakan, meninggal, sakit, kecelakaan dan lain sebagainya.

Dengan demikian maka yang menjadi objek transaksi adalah risiko. Risiko sebagai objek transaksi ini ditukar dengan premi yang dibayarkan oleh peserta asuransi.Terjadilah pengalihan risiko dengan kompensasi pembayaran premi.

Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya temasuk asuransi jiwa. Pendapat ini dikemukakan oleh Sayyid Sabiq Abdullah al-Qalqii Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth’i . Alasan-alasan yg mereka kemukakan ialah

Pendapat Asuransi Haram
  • Asuransi sama dgn judi
  • Asuransi mengandung ungur-unsur tidak pasti.
  • Asuransi mengandung unsur riba/renten.
  • Asurnsi mengandung unsur pemerasan krn pemegang polis apabila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya akan hilang premi yg sudah dibayar atau di kurangi.
  • Premi-premi yg sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.
  • Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai.
  • Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis dan sama halnya dgn mendahului takdir Allah.
Pendapat Asuransi Halal

Asuransi di perbolehkan dalam praktek seperti sekarang. Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf Mustafa Akhmad Zarqa Muhammad Yusuf Musa dan Abd. Rakhman Isa . Mereka beralasan

  • Tidak ada dalil yg melarang asuransi.
  • Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.
  • Saling menguntungkan kedua belah pihak.
  • Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum sebab premi-premi yang terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dalam pembangunan.
  • Asuransi termasuk akad mudharabah
  • Asuransi termasuk koperasi .
  • Asuransi di analogikan dengan sistem pensiun seperti taspen.
  • Asuransi yang bersifat sosial di perbolehkan dan yang bersifat komersial diharamkan

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa masalah asuransi yg berkembang dalam masyarakat pada saat ini masih ada yg mempertanyakan dan mengundang keragu-raguan sehingga sukar utk menentukan yg mana yg paling dekat kepada ketentuan hukum yg benar.

Untuk Asuransi Haji harus berbasis Syariah sama dengan Asuransi Syariah lainnya sehingga halal sedangkan asuransi konvensional tergantung keyakinan nasabah karena ada perbedaan pendapat seperti uraian diatas.

Saat ini belom ada ulasan

Blog Yang Serupa