Top
Chat Sekarang
Konsultasi Gratis!
×
PROMOSI ONLINE 1 hari ini saja! 35% Discount untuk Asuransi Mobil dan Motor!!! HANYA ONLINE ORDER - tidak tersedia dengan call center.

Pelanggan dari Morotai Island baru saja membeli Asuransi Kesehatan dari Asuransi Takaful Umum

×

30 Oct 2015

Simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Buat yang Berpenghasilan 5 Juta ke Bawah

Simulasi KPR untuk penghasilan 5juta kebawah - Asura

Kategori:

Rumah kebutuhan siapa saja, baik ia berada atau tidak berada. Orang-orang dengan penghasilan tinggi barangkali tidak terlalu pusing memikirkan hunian untuk mereka. Di lain pihak, mereka dengan penghasilan lebih terbatas, harus benar-benar hati-hati merencanakan pembelian rumah.

Kredit Pemilikan Rumah adalah salah satu solusi bagi yang tidak mampu membeli rumah secara tunai. Namun, persyaratan mendapatkan kredit ini juga masih berat bagi lapisan masyarakat dengan penghasilan pas-pasan. Bagaimana tidak, kita perlu membayar uang muka sebesar 30 persen plus biaya lainnya. Taruh saja harga rumah 100 juta rupiah. Dibutuhkan setidaknya 30 juta rupiah untuk membayar uang muka.

Butuh perencanaan matang untuk pembelian rumah dengan skema semacam itu. Tetap saja, kita perlu membeli rumah, sebab hunian merupakan kebutuhan pokok. Untuk itu artikel ini akan membahas gambaran mengenai perencanaan dan pembayaran bila seseorang mengambil Kredit Pemilikan rumah. Melalui Simulasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berikut ini, diharapkan pembaca dapat merencanakan dengan baik KPR-nya.

Simulasi Kredit Pemilikan Rumah oleh Bejo

Bejo seorang karyawan di sebuah perusahaan dengan penghasilan 5 juta rupiah. Didorong keinginan punya tempat tinggal sendiri bila menikah, ia lalu merencanakan pembelian rumah melalui KPR. Untuk itu, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya. Lagi pula, Bejo memang tidak memiliki banyak kebutuhan karena ia masih hidup sendiri. Targetnya, 3 tahun lagi ia harus punya rumah sendiri.

Setiap bulan Bejo menabung sebanyak 2,5 juta rupiah selama dua tahun. Di akhir tahun kedua, tabungannya sudah mencapai 60 juta rupiah. Dengan dana ini, Bejo memperkirakan ia akan mendapatkan rumah seharga 150 juta rupiah. Rumah harga segitu tentu tidak berlokasi di pusat kota.

Jadilah Bejo mengajukan KPR melalui Bank Nabung Terus dengan lama cicilan 15 tahun. Dari 60 juta rupiah tersebut, Bejo mengalokasikan 45 juta rupiah untuk uang muka KPR. Sementara 15 juta sisanya akan dialokasikan untuk biaya lain-lain. Bejo memang sudah mengetahui sejak awal, perlu dana ekstra selain uang muka untuk mengurus KPR. Beberapa biaya tambahan yang perlu ia keluarkan meliputi: biaya administrasi, bookingfee (tanda jadi), appraisal, asuransi, provisi, dan notaris.

Setelah membayar uang muka dan biaya lainnya, Bejo masih memiliki utang pokok sebesar:

Harga rumah – Uang Muka = Rp. 150.000.000 – Rp. 45.000.000 = Rp. 105.000.000

Terhitung utang pokok yang menjadi plafon kredit Bejo masih sejumlah 105 juta rupiah.

Pada dua tahun pertama, Bank menetapkan sistem bunga flat untuk cicilan KPR Bejo. Bunga flat berarti bunga tetap, jumlah bunga yang dibayarkan tidak berubah selama waktu tertentu. Bejo pernah diberi tahu, Bank memang biasanya membuat kebijakan ini agar masyarakat tertarik mengajukan KPR. Bejo tidak masalah dengan itu. Bagaimanapun, memiliki rumah adalah kebutuhannya.

Bunga flat yang ditetapkan bank sebesar 5 persen. Bejo penasaran berapa cicilan pokok yang harus ia bayarkan sebelum ditambah bunga. Cicilan pokok merupakan cicilan yang harus ia bayarkan per bulan berdasarkan jumlah utang pokok dibagi lamanya angsuran berdasarkan satuan bulan. Setelah dihitung, didapatkanlah cicilan pokok:

Sisa utang yang belum terbayarkan : (lama tahun angsuran x 12 bulan) =

Rp. 105.000.000 : (15 x 12) = Rp. 105.000.000 : 180 = Rp. 583.333,33

Kemudian dihitunglah bunga dengan cara:

Sisa utang yang belum terbayarkan x rate bunga : 12 bulan =

Rp. 105.000.000 x 5% : 12 = 437.500

Dengan begitu, jumlah angsuran Bejo selama dua tahun pertama adalah:

Cicilan pokok ditambah bunga = 583.333,33 + 437.500 = 1.020.833,33

Digenapkan, angsuran yang dibayarkan sejumlah 1 juta 21 ribu rupiah. Setelah dua tahun, angsuran yang telah dibayarkan Bejo telah mencapai 24,5 juta rupiah. Dari jumlah angsuran ini, berarti ia masih harus melunasi sisa hutang sebesar 80,5 juta rupiah selama 13 tahun ke depan.

Lewat dua tahun mengangsur, skema bunga KPR Bejo berubah. Ia tidak lagi membayar bunga flat, namun bunga floating. Bunga floatingatau bunga mengambang merupakan skema bunga yang besarannya bisa berubah berdasarkan keadaan pasar.

Setelah dua tahun, utang pokok Bejo tidak lagi 105 juta rupiah, namun 80,5 juta rupiah. Sedangkan cicilan pokoknya tetap seperti di awal. Kebetulan, saat itu Bank menetapkan bunga floatingsebesar 8%. Dengan cara penghitungan sama dengan sebelumnya, cicilan utang Bejo menjadi:

Cicilan pokok ditambah bunga = Rp. 583.333,33 + {(80,5 juta x 8%)/12 bulan} =

Rp. 583.333,33 + Rp. 536.666,67 = Rp. 1.120.000

Namun pembayaran sejumlah 1,12 juta rupiah ini hanya berlaku di bulan pertama setelah 2 tahun pertama angsuran. Di bulan selanjutnya, bank juga menetapkan sistem bunga efektif. Jadi skema pembayaran bunganya ada dua, yaitu bunga floatingdan bunga efektif. Dengan bunga efektif, berarti jumlah cicilan Bejo nantinya terus berkurang setiap bulan. Sebagai contoh, jumlah angsuran yang harus dibayarkan pada bulan kedua setelah dua tahun pertama, dengan asumsi bunga floatingmasih sebesar 8%:

- Jumlah utang pokok (pada bulan ke-2 setelah 2 tahun pertama) = 80,5 juta – 1,12 juta = 79,38 juta

- Jumlah cicilan pokok = Rp. 583.333,33

- Bunga efektif = (79,38 juta x 8%)/12 = Rp. 529.200

- Jumlah angsuran di bulan ke-2 setelah 2 tahun pertama = Rp. 583.333,33 + 529.200 = 1.112.533,33 (digenapkan 1,11 juta rupiah)

Perhitungan cicilan tersebut akan menggunakan skema bunga efektif sampai akhir masa angsuran. Tentu saja, rate bunga yang ditetapkan juga masih menggunakan bunga floating. Bisa jadi, bunga floatingtersebut turun atau bahkan naik dari bulan sebelumnya. Bisa juga, rate bunga tersebut tidak berubah seperti simulasi kredit pemilikan rumah di atas.

Berdasarkan simulasi kredit pemilikan rumah di atas, Bejo tidak sampai harus menyisihkan penghasilan hingga 1,5 juta rupiah setiap bulannya. Bila dirata-ratakan saja, 1,5 juta dari keseluruhan penghasilan ia siapkan untuk angsuran rumah, berarti masih ada 3,5 juta rupiah lagi untuk keperluan lainnya.

Kelola keuangan dengan baik

Simulasi kredit pemilikan rumahBejo di atas tentu tidak dialami oleh semua orang. Bagaimana bila penghasilan per bulan hanya 3 juta rupiah, sudah menikah pula. Tentu perencanaannya akan berbeda.

Memangkas pengeluaran yang tidak perlu harus diutamakan. Untuk sementara, kurangi dulu budget bulanan untuk menyalurkan hobi, misalnya jalan-jalan atau mengoleksi barang-barang tertentu. Jika memungkinkan, pangkas juga pengeluaran rutin. Kalau biasanya pakaian biasa di-laundrydan makan beli di luar, sekarang pakaian dicuci sendiri dan makanan dimasak sendiri. Selain itu, pengeluaran yang tidak perlu benar-benar harus dikurangi. Salah satu contohnya, bagi para perokok, kurangi jatah merokoknya, atau berhenti sama sekali.

Tiap bank punya kebijakan berbeda

Simulasi kredit pemilikan rumahdi atas tentunya hanya gambaran umum. Setiap bank punya kebijakan berbeda-beda. Bisa jadi, ada bank yang berani menawarkan pembayaran uang muka hanya 10% saja. Jumlah biaya tambahan yang harus dikeluarkan juga mungkin berbeda-beda. Ditambah lagi, skema bunga yang ditetapkan oleh bank barangkali tidak sama satu sama lain.

Tidak ada salahnya membandingkan penawaran satu bank dengan yang lain, lalu dipilih mana yang paling disanggupi dan cocok dengan perencanaan keuangan kita. Pastinya, tidak disarankan mengambil Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk membayar uang muka rumah. KTA memiliki beberapa kelemahan yang nantinya justru membuat pengelolaan keuangan menjadi kacau balau.

Tak bisa lunasi uang muka sekaligus, bisa dicicil, kok

Simulasi kredit pemilikan rumah di atas merupakan simulasi bila kita langsung berhubungan dengan bank. Ada metode lain dalam pengambilan KPR. Kita bisa memotong jalur langsung ke developer, tidak melalui Bank. Developer biasanya menawarkan sistem kredit in-house. Sistem kredit ini memungkinkan konsumen membayar uang muka dengan cara dicicil.

Misalkan, Uang muka 45 juta rupiah yang dibayarkan Bejo berdasarkan simulasi kredit pemilikan rumah di atas, masih bisa dicicil lagi. Berapa jumlah dan lama cicilan, tergantung dari developernya. Tiap developer memiliki kebijakan berbeda.

Walau begitu, biasanya tidak banyak unit rumah yang ditawarkan dengan skema kredit in-house. Dari 100 unit rumah di satu perumahan, mungkin hanya 5-10 di antaranya yang ditawarkan dengan skema kredit ini.

Jadi, sudah siap untuk kredit rumah?

Setelah bahasan panjang dari awal artikel ini, pertanyaan akhirnya adalah: sudah siapkah untuk kredit rumah? Pertama, niat pastinya perlu dimantapkan. Kedua, tetapkan target dan rencana. Dan terakhir, jalankan rencana secara konsisten.

Sebagai aset yang berharga rumah layak anda miliki dan rawat dengan baik. Jangan lupa untuk bergabung dengan Asura, sahabat asuransi anda untuk mendapatkan segala informasi tentang asuransi rumah untuk anda semua.

Saat ini belom ada ulasan

Blog Yang Serupa