Top
Konsultasi Gratis!
×
PROMOSI ONLINE 1 hari ini saja! 35% Discount untuk Asuransi Mobil dan Motor!!! HANYA ONLINE ORDER - tidak tersedia dengan call center.

Pelanggan dari Morotai Island baru saja membeli Asuransi Kesehatan dari Asuransi Takaful Umum

×

30 Oct 2015

Ternyata Ada Kerjasama Saling Menguntungkan dibalik Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit

Ternyata Ada Kerjasama Saling Menguntungkan dibalik Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit - Asura

Pernahkah anda mengalami ada biaya charge 2,5-3 % saat membeli produk dengan kartu kredit? Sementara di lain tempat atau produk lain tidak kena biaya? Biaya apakah itu? Dunia kartu kredit mengenal biaya tersebut dengan isitlah “surcharge”. Bisnis kartu kredit sendiri kian marak seiring dengan gaya hidup yang seolah-olah prestisenya naik setelah menggunakan kartu kredit. Di sisi lain sebenarnya kartu kredit sendiri memberikan banyak keuntungan bagi penggunanya. Simak uraian lengkap berikut ini

Mengapa Kartu Kredit Begitu Booming di Indonesia?

Ada banyak alasan dan manfaat yang dirasakan pemegang kartu sehingga pengguna kartu kian lama kian meningkat. Salah satunya adalah praktis dalam penggunaan, dimana pemegang kartu tidak perlu repot lagi bawa uang tunai. Transaksi bisa mudah, lancer dan aman bahkan anda tidak perlu repot lagi dengan uang kembalian. Selain praktis, kartu kredit juga seperti kartu sakti bisa digunakan untuk menutup kebutuhan yang mendesak. Salah satu kondisi mendesak adalah masuk rumah sakit dan membutuhkan perawatan segera.Dapat banyak rewards. Kemudahan lain yang di dapat oleh pengguna kartu adalah banyaknya reward yang diberikan dari penerbit kartu misalnya hadiah langsung, cashback, reward point untuk membeli produk tertentu.

Transaksi Kartu Kredit, Ada yang Normal dan Ada yang kena Surcharge

Sebenarnya traksaksi dengan kartu kredit sama prosesnya dengan tunai yaitu tanpa biaya. Hanya saja kalo menggunakan kartu kredit anda tidak perlu membawa uang tunai dan cukup dengan gesek saja. Sangat mudah dan simple. Namun pada kenyataannya anda kemungkinan akan mengalami perlakuan yang berbeda saat membeli produk di merchant atau toko yang berbeda. Perbedaan itu terkait biaya proses transaksi dengan kartu kredit tersebut. Ada merchant yang mengenakan tambahan biaya 3-3,5 % ada juga yang tidak. Tambahan biaya ini yang dikenal dengan istilah surcharge.

Apa itu Surcharge, Berapa Besarnya, dan Bagaimana Prosesnya

Surcharge adalah biaya tambahan atas transaksi kartu kredit yang dibebankan oleh merchant saat membeli produk tertentu. Biasanya besarnya surcharge 3%-3,5%. Proses surcharge terjadi saat proses gesek kartu kredit langsung dibebankan pada nominal harga pada mesin EDC sehingga saat tagihan muncul nominalnya lebih besar dari harga asli produk yang dibeli.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah ini legal? Siapakah yang menikmati surcharge ini?

Traksski kartu kredit melibatkan bank penerbit kartu, merchant dan penyedia mesin EDC. Sebenarnya sangat wajar manakala bank mengincar keuntungan lewat penyediaan mesin gesek EDC. Nasabahnya adalah pemilik toko atau merchant itu sendiri dengan cara menarik fee 3-3,5 % atas setiap transaksi lewat mesin gesek ini untuk menutup biaya operasional bank dan menjadi fee based income mereka.

Ternyata Ada Kerjasama Saling Menguntungkan di Balik Alasan Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit

Pada kasus surcharge sebenarnya yang nakal adalah merchantnya. Ada saja Alasan Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit yang mereka kemukakan. Dan celakanya bank penerbit kartu juga memaklumi Alasan Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit ini walau jelas dilarang oleh regulator BI.

Harga jual beberapa produk seperti elektronik dan gadget sangatlah bersaing dengan margin keuntungan yang sangat tipis bahkan di bawah 2%. Tidak masuk akal manakala untuk transaksi dengan margin 2% dikenakan biaya 3% untuk biaya transksi ke penerbit kartu. Merchant pasti rugi, dan untuk menutup biaya tersebut mereka membebankan ke pembeli dalam bentuk surcharge.

Bagaimana dengan bank penerbit kartu? Apakah mereka juga keberatan dan memutus kontrak penggunaan kartu dengan merchant sesuai dengan aturan regulator? Oh..tunggu dulu. Bisnis kartu kredit sangatlah menggiurkan. Bank tinggal duduk diam sudah mendapat setoran fee dari merchant. Di dalam perjanjian kerjasama antara Bank dengan merchant, pihak Bank mendapatkan komisi atas transaksi yang dilakukan di merchant itu dengan kartu kredit.

Bank selalu mendorong merchant agar banyak menggunakan transaksi dengan kartu kredit, bahkan cenderung tutup mata terkait praktek menyimpang dan “segala cara” tersebut. Bahkan saking semangatnya bank mengambil manfaat dari fee transasksi kartu kredit ini, mereka menerapkan target tertentu yang harus dipenuhi merchant setiap bulannya.

Bagaimana Bank Penerbit Kartu mengambil Untung dari Surcharge?

Sebenarnya bank tidak mengambil untung dari surcharge. Bank hanya membebani merchant dengan biaya transaksi kartu kredit. Mereka membuat perjanjian kerjasama, bank dan merchant sepakat menentukan nilai merchant discount rate. Dalam kerjasama tersebut komisi yang didapat bank dari tiap transaksi yang dilakukan via kartu kredit. Besarannya rata-rata 3-3,5 persen. Ambil saja contoh misalnya terjadi transaksi kartu kredit senilai Rp 1 juta di merchant itu. Maka bank berhak atas komisi sebesar 3 persen dari Rp 1 juta yang nilainya Rp 30 ribu.

Karena margin keuntungan beberapa produk yang sangat kecil dibawah 3 %, maka merchant membebankan biaya bank ke konsumen dalam bentuk surcharge. Inilah yang mereka klaim sebagai Alasan Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit

Cara Normal Walau Sering Gagal untuk Menghindar dari surcharge kartu kredit

Sebenarnya cara paling gampang agar terhindar dari surcharge adalah dengan membeli produk di merchant yang tidak ada surchargenya. Hal ini pada prakteknya juga tidak gampang. Sebagian merchant ini seolah sepakat membebankan surcharge supaya harga jual produk tetap bersaing dan menjadikan hal ini sebagai Alasan Merchant Pungut Biaya Surcharge Kartu Kredit.

Jika and tak bisa menghindar dari surcharge, maka masih banyak saluran pengaduan yang bisa dimanfaatkan kalau jadi korban surcharge. Anda bisa saja mengontak penerbit kartu kredit (acquire) maupun pemilik mesin EDC secara resmi. Setelah itu tunggu saja respon dari bank penerbit kartu untuk memutus kontraknya dengan merchant tersebut. Jika pihak penerbit kartu kredit maupun pemilik mesin EDC tutup mata maka anda bisa langsung mengadu ke Bank Indonesia, Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), maupun lembaga pengaduan konsumen seperti YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Siapa yang Nakal di Balik Surcharge Kartu Kredit?

Pada kasus surcharge ini sebenarnya yang nakal adalah pedagangnya. Mereka mau gampangnya saja dan membebankan biaya operasional bank ke pembeli. Padahal secara jelas merchant diuntungkan dengan menerima pembayaran kartu kredit, transaksi mereka lebih mudah dan banyak pembelinya.

Bagaimana Solusi Menghadapi Dilema Surcharge Kartu Kredit?

Jika anda mengalami surcharge dan berniat ingin mengjikan klaim biaya ke penerbit kartu, maka sebaiknya pisahkan transaski surcharge kartu kredit dengan transaksi pembelian. Kedua belah pihak baik merchant maupun bank punya kepentingan yang sama dalam transaksi kartu kredit. Bagi merchant sebenarnya ada solusi yang bisa diambil yaitu dengan memberitahukan kepada konsumen tentang adanya surcharge 3 persen jika bertransaksi dengan kartu kredit sebelum transaksi dilakukan.

Simak terus uraian tentang asuransi di Blog Asura, Sahabat Asuransi Anda berikut ini.

Saat ini belom ada ulasan

Blog Yang Serupa